Konon cerita, ada 3 sekawan dari negara yang berbeda; Indonesia, Jepang dan Amerika; bersama-sama melakukan perjalanan keliling Indonesia. Perjalanan di mulai dari Timika dan rencananya akan berakhir di Banda Aceh. Untuk menghemat biaya, perjalanan ini mengunakan Fokker D-VIII yang sudah dimodifikasi. Hujan, kabut tebal dan udara cerah menjadi pengalaman menarik bagi ketiganya. Pada suatu waktu, pesawat tersebut memasuki kawasan udara sebuah pulau yang terlihat sangat panjang (diduga pulau ini pulau Sumatera ). Kabut tebal menyelimuti sepanjang perjalanan hingga waktu yang panjang. Rekan seperjalanan yang berasal dari Jepang bertanya kepada rekannya yang berasal dari Indonesia : “ Sudah dimanakah kita ?”. Si Indonesia memicingkan matanya mencoba mencari tahu dimana kira-kira posisi mereka saat ini. Ia lalu berkata kepada kedua rekannya : “Sepertinya saya tahu dimana kita sekarang berada. Akan tetapi untuk memastikan, bisakah Smith (rekan dari Amerika) menjulurkan tangannya ke luar!!!” Tanpa bertanya lebih jauh, Smith membiarkan tangannya terjulur selama kurang lebih 3 menit. Saat Smith menarik kembali tangannya, kagetlah dia. “Jam tanganku hilang !!!”, serunya kaget. Si Indonesia dengan wajah puas berteriak : “Kita sudah tiba di Medan !!!”

Jika melihat dari nama yang dimilikinya, Sei Rampah, kehidupan masyarakat di ibukota Kabupaten Serdang Bedagai ini secara sekilas akan diidentik dengan sungai. Saat mengunjungi Sei Rampah dari Medan, pemandangan yang akan disuguhkan sepanjang jalan di kiri kanannya adalah hamparan perkebunan kelapa sawit. Goncangan ekonomi yang datang beberapa waktu yang lalu menimbulkan kejutan tersendiri bagi masyarakat di lokasi ini. Penurunan harga tandan segar kelapa sawit pastinya cukup berpengaruh terhadap pendapatan masyarakat di lokasi ini. Komoditas perkebunan yang tidak kalah penting di kabupaten ini seperti karet dan kakao, juga terpengaruh oleh gonjangan tersebut.
Nama kabupaten Serdang Bedagai yang merupakan adalah hasil pemekaran wilayah Kabupaten Deli Serdang, konon kabarnya berasal dua kesultanan yang pernah memerintah di wilayah tersebut -Kesultanan Serdang dan Padang Bedagai. Budaya melayu yang kental akan ditemui di hampir seluruh kecamatan di wilayah ini. Seturut dengan meningkatnya arus urbanisasi, di beberapa daerah sudah mulai ditemui beragam suku dengan jenis kepercayaan yang beragam pula.
Selat Malaka dan perairan sekitarnya, memberikan nuansa tersendiri bagi kita saat berkunjung ke Kabupaten Serdang Berdagai. Keindahan panorama di sekitar Pantai Cermin dengan hamparan pasir putihnya yang menyejukan, menjadikannya sebagai sebagai salah pusat wisata masyarakat. Juice kedondong menjadi minuman yang menarik dan selayaknya dicicipi oleh mereka yang baru pertama kali menjenguk daerah ini. Hal menarik lainnya dari pantai ini adalah adanya sebuah pusat jajanan yang menawarkan berbagai menu “selera bahari” yang lezat.

Sebagai salah satu pulau terdepan Indonesia di kabupaten ini, Pulau Berhala, menawarkan potensi wisata yang besar. Pulau yang memiliki luas sekitar 42 hektar dan dapat ditempuh sekitar 4- 5 jam dengan kapal berkecepatan rata-rata 12 knot, menawarkan pemandangan eksotis yang sulit untuk dilupakan. Hiking, diving, snorckling, bird watching merupakan pilihan kegiatan yang dapat dilakukan bagi pengunjung yang mendatangi pulau ini. Hal unik lainnya yang dapat ditemui di pulau ini adalah kita dapat melihat penyu-penyu yang dikenal dengan nama penyu belimbing (Devmochelys coreacea). Berdasarkan sejumlah penelitian, penyu-penyu itu kerap bermigrasi dari lokasi yang jauh seperti Kepulauan Hawai di Amerika Serikat, Australia hingga ke Pulau Berhala, dan selanjutnya singgah dan bertelur di Pulau ini. Untuk melindungi keunikan pulau ini dan mempertahankannya sebagai bagian tak terpisahkan dari NKRI, Pemerintah Daerah Kabupaten Serdang Bedagai, telah menerbitkan Perda No. 12/2006 tentang penetapan Pulau Berhala sebagai kawasan marine ecotourism. Marine ecotourism di pulau ini dimaksudkan sebagai kegiatan wisata di daerah pesisir dan laut dengan pendekatan konservasi laut serta berorientasi pada lingkungan. Kegiatan ini bertujuan untuk menjembatani kepentingan perlindungan sumber daya alam/lingkungan dan industri kepariwisataan. Untuk pengembangan Pulau Berhala, PT. Kawasan Wisata Pantai Cermin (KWPC) memperoleh izin dari pemda setempat tinggal dan menunggu persetujuan dari pemerintah pusat. Sejauh ini PT. KWPC telah mengembangkan kawasan Pantai Cermin yang nantinya akan digunakan sebagai satu-satunya pintu masuk (entry point) menuju Pulau Berhala. Pemandian Batu Nongol, Pura Bali Desa Pegajahan dan Air Terjun Sampuran menjadi alternatif pilihan lokasi kunjungan wisata lain yang dapat dipertimbangkan untuk dikunjungi.
Departemen Kelautan dan Perikanan melalui Direktorat Jenderal Kelautan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil sangat berkepentingan untuk memajukan wilayah ini. Beberapa program unggulan bersumber dari Dana Pusat, Tugas Perbantuan maupun Dekonsentrasi telah dialokasikan di Kabupaten ini.
Mulai tahun 2006, dua desa yakni Desa Kotapari dan Kuala Lama yang terdapat dalam satu kecamatan, Kecamatan Pantai Cermin, mendapat bantuan untuk pemenuhan kebutuhan dasar akan infrastruktur lingkungan melalui program Pengelolaan Lingkungan Berbasis Pemberdayaan Masyarakat (PLBPM). Perhatian dari program ini pada dua desa yang jumlah penduduknya 950 jiwa atau setara dengan 231 Kepala Keluarga, adalah mengatasi masalah abrasi pantai, pengikisan sisi muara, penumpukan sedimen muara sungai yang merupakan alur pelayaran, meningkatkan kesadaran masyarakat untuk melestarikan lingkungan pesisir dan laut dan perbaikan kualitas pemukiman penduduk. Melalui program PLBPM telah dilakukan penanaman mangrove, pemasangan terucuk pohon kelapa sebagai penahan abrasi, pengerukan sungai untuk mencegah gangguan terhadap alur pelayaran, serta peningkatan kualitas lingkungan melalui pmbangunan sarana MCK, jembatan, betonisasi jalan, bak sampah, sistem penerangan jalan dan perbaikan rumah. Melalui program ini juga dilakukan usaha pembangunan fasilitas fisik berupa kantor koperasi pada masing-masing desa dengan harapaan dapat menjadi salah satu pemicu peningkatkan kualitas ekonomi mayarakat di desa tersebut.Sebagai salah satu pulau kecil yang berbatasan dengan negara tetangga, pulau Berhala mendapatkan perhatian khusus sehingga beberapa program telah dan akan dilaksanakan di lokasi tersebut. Bupati Serdang Bedagai telah memutuskan sebagian perairan laut pesisir Pulau Berhala, Pulau Sokong Nenek dan Sokong Siembah sebagai kawasan konservasi laut daerah. Penetapan hal tersebut dengan memperhatikan naskah akademis tata ruang pulau Berhala yang telah diinisiasi oleh Direktorat Tata Ruang Laut Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Informasi yang disitir dari beberapa media massa, banyak nelayan di wilayah ini yang kapalnya ditembaki oleh pihak patroli Diraja Malaysia karena melanggar batas. Untuk mencegah hal tersebut terjadi kembali untuk kesekian kalinya, Direktorat Tata Ruang Laut Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil mencoba untuk membuat tanda batas dan zonasi di sekitar perairan pulau Berhala.
Masyarakat dan pemerintah daerah menyambut baik pembinaan dan bantuan yang diberikan oleh Departemen Kelautan dan Perikanan. Saat ini lingkung desa nelayan di dua desa tersebut sudah terlihat lebih teratur. Dalam kunjungan kerja yang dilaksanakan oleh beberapa pihak, masyarakat menunjukkan atusiasme dan sangat berterima kasih kepada pemerintah yang telah menciptakan program-program untuk pengembangan daerah mereka. Akan tetapi, program-program yang diberikan oleh pemerintah pusat memiliki keterbatasan. Pemerintah daerah serta masyarakat harus mulai belajar untuk mengambil alih penyelesaian masalah yang terjadi di daerahnya.